SEXUAL HARASSMENT DI PABRIK H&M DAN GAP ASIA

SEXUAL HARASSMENT DI PABRIK H&M DAN GAP ASIA

Berdasarkan wawancara dengan sekitar 550 pekerja di 53 pabrik pemasok H&M dan Gap di Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, dan Sri Lanka, menunjukkan bahwa perempuan berada dalam resiko kekerasan dan pelecehan seksual

(SPN New) Jakarta, Perusahaan fashion raksasa asal Swedia, H &M dan asal Amerika Serikat, GAP Inc, akan menyelidiki laporan yang menyebut pekerja garmen Asia yang memasok toko jalanan mereka secara rutin menghadapi pelecehan seks dan kekerasan saat bekerja.

Dilansir dari Reuters, 6 Juni 2018, berdasarkan wawancara dengan sekitar 550 pekerja di 53 pabrik pemasok H&M dan Gap di Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, dan Sri Lanka, kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan perempuan berada dalam resiko kekerasan dan pelecehan seksual. Mereka juga diancam jika melaporkan kasus itu.

Pihak LSM telah menyelidiki pabrik selama beberapa tahun sebagai upaya agar produsen pakaian bermerk dari negara barat meningkatkan keselamatan karyawannya. Laporan LSM mengatakan mereka telah menemukan pelecehan seksual, baik pelecehan secara verbal dan fisik seperti menampar dan ancaman pembalasan ketika perempuan menolak dorongan seksual dari atasan.

Pakaian dijahit oleh pekerja Asia berbiaya rendah, dan berakhir di pusat perbelanjaan negara barat dengan harga tinggi. Kini terdapat sekitar 4.750 toko H&M yang terletak di 69 negara dan sekitar 3.700 toko GAP yang beroperasi di sekitar 90 negara.

H&M Swedia, produsen pakaian No 2 di dunia ini akan meninjau kembali temuan laporan terbaru oleh kelompok dan serikat pekerja sipil.
“Kami akan memeriksa setiap bagian laporan dan menindaklanjuti di tingkat pabrik dengan tim lokal kami yang berbasis di masing-masing negara produksi,” kata juru bicara perusahaan.

Sementara retail pakaian Amerika Serikat, GAP, mengatakan pihaknya merasa sangat prihatin dengan laporan ini.
“Tim global kami saat ini sedang melakukan penyelidikan dan mengatasi masalah ini,” kata seorang juru bicara GAP.

Sebuah laporan terpisah yang diterbitkan bulan lalu oleh koalisi kelompok hak asasi menemukan pelecehan serupa terhadap wanita di pabrik pemasok di Asia untuk Walmart yang berbasis di Amerika Serikat. Walmart mengatakan bulan lalu bahwa mereka sedang meninjau laporan itu.

The Ethical Trading Initiative (ETI), kelompok serikat pekerja, perusahaan dan badan amal, mengatakan pihaknya mengharapkan retail untuk bekerja dengan pemasok untuk memastikan bahwa perempuan memiliki akses pengaduan yang cepat.

“Tuduhan ini sangat memprihatinkan,” kata Debbie Coulter dari ETI, “Kekerasan berbasis gender tidak dapat diterima dalam situasi apa pun, dan perusahaan harus memastikan bahwa perempuan yang bekerja di rantai suplai harus dilindungi.”

Laporan-laporan ini telah dipublikasikan di pertemuan yang diselenggarakan oleh Organisasi Buruh Dunia PBB (ILO) untuk membuat konvensi dunia pertama terhadap pelecehan karyawan di tempat kerja.

Shanto dikutip dari tempo.com/Editor

KONTRIBUSI KANTOR PUSAT

TOTAL DANA YANG TERKUMPUL

Rp.323.602.000

Untuk lebih detailnya klik.

Arsip