Demonstrasi buruh yang tuntutannya adalah kebutuhan “perut” selalu berakhir dengan relatif damai tidak seperti demo lainnya yang seringkali berakhir dengan anarkis

(SPN News) Jakarta, Pengamat Komunikasi dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi menilai demo buruh yang menolak revisi UU Ketenagakerjaan dan tentang BPJS, pada (2/10) yang lalu dinilai bisa menjadi pembanding dengan demo anarkis yang marak belakangan ini

“Demonstrasi kalau sudah ada komunikasi yang baik antara demonstran dan pemangku kebijakan, pasti jauh dari anarkis. Karena kedua belah pihak sama-sama ingin titik temu dari kepentingan masing-masing. Bukannya ekspresi kekerasan yang akhirnya merugikan semua pihak,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, (3/10/2019).

Baca juga:  GEMPUR TOLAK REVISI UU KETENAGAKERJAAN

Lanjutnya, ia pun membandingkan demo damai buruh dengan demo mahasiswa dan pelajar yang menolak beberapa RUU kontroversial yang berakhir anarkis.

Lebih lanjut, ia mengatakan tuntutan buruh meski sudah dikomunikasikan dengan pemerintah, belum ada titik temu. Sementara tuntutan mahasiswa dan pelajar justru sudah dipenuhi.

“Inilah anehnya. Tuntutan penolakan 4 dari 5 RUU kontrovesial dari mahasiswa sudah dipenuhi Presiden dengan penundaan pengesahan. Presiden juga sudah menyatakan mempertimbangkan penerbitan Perppu KPK, tapi kok masih saja anarkis?” ucapnya.

Melihat keanehan itu, tidak heran banyak muncul dugaan di masyarakat bahwa aksi-aksi anarkis mahasiswa dan pelajar tersebut ada yang menunggangi.

“Wajar jika orang kebanyakan akan berpikir seperti itu (ditunggangi). Apalagi kerusakan dan gangguan keamanan yang ditimbulkan sudah membuat jengkel banyak orang,” tukasnya.

Baca juga:  AKSI SOLIDARITAS MENUNTUT TANGGUNG JAWAB H&M INDONESIA

Menurutnya, demo mahasiswa dan pelajar seharusnya tidak anarkis, bahkan bisa lebih damai dari demo buruh.
“Karena tuntutan buruh tolak kenaikan iuaran BPJS, tolak revisi UU Ketenagakerjaan dan PP 78/2015 ini urusannya langsung ke ‘perut’, ke penghasilan mereka. Tapi kalau komunikasi dilakukan dengan kepala dingin, urusan ‘perut’ itu tidak akan melahirkan amuk massa,” jelasnya.

SN 09 dikutip dari berbagai sumber/Editor