SPN News – Bagi buruh perempuan, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, dilema terhadap pendidikan anak sering menjadi beban yang tiada henti. Di satu sisi, mereka memiliki mimpi besar agar anak-anaknya mengenyam pendidikan setinggi-tingginya dan meraih masa depan yang lebih baik. Namun di sisi lain, keterbatasan ekonomi dan tuntutan memenuhi kebutuhan keluarga memaksa mereka bekerja berjam-jam, sehingga waktu dan tenaga untuk mendampingi anak belajar menjadi tersita.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Dilema:

  • Keterbatasan Ekonomi:

    • Gaji buruh perempuan, khususnya di sektor informal, kerap kali berada di bawah UMR dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
    • Biaya pendidikan yang terus meningkat, terutama untuk jenjang yang lebih tinggi, menjadi tantangan besar bagi buruh perempuan untuk menyekolahkan anak-anaknya.
  • Jam Kerja yang Panjang:

    • Buruh perempuan, khususnya di pabrik dan sektor industri lainnya, seringkali memiliki jam kerja yang panjang, bahkan hingga 12 jam per hari.
    • Hal ini membuat mereka kelelahan dan sulit meluangkan waktu untuk membantu anak belajar, mengantar ke sekolah, atau mengikuti kegiatan sekolah.
  • Kurangnya Dukungan dari Pasangan:

    • Dalam beberapa keluarga, beban pengasuhan anak masih dianggap sebagai tanggung jawab utama istri, meskipun keduanya sama-sama bekerja.
    • Kurangnya dukungan dari pasangan dapat memperberat dilema buruh perempuan dalam menyeimbangkan pekerjaan dan pendidikan anak.
  • Tradisi dan Stigma Sosial:

    • Di beberapa daerah, masih ada tradisi dan stigma sosial yang menganggap pendidikan tinggi tidak terlalu penting bagi anak perempuan.
    • Hal ini dapat membuat buruh perempuan ragu-ragu untuk memprioritaskan pendidikan anak perempuan mereka, terutama jika biaya terbatas.
Baca juga:  APAKAH BURUH DIY SUDAH SEJAHTERA SEPERTI YANG DI KLAIM OLEH DISNAKERTRANS ?

Dampak Dilema terhadap Anak:

  • Kurangnya Prestasi Akademik:

    • Kurangnya perhatian dan pendampingan dari orang tua, khususnya ibu, dapat mempengaruhi prestasi akademik anak.
    • Anak mungkin merasa kesulitan belajar, kurang motivasi, dan mudah menyerah.
  • Masalah Perkembangan Anak:

    • Kurangnya waktu berkualitas dengan orang tua dapat berdampak pada perkembangan mental dan sosial anak.
    • Anak mungkin rentan mengalami gangguan emosional, kurang percaya diri, dan kesulitan bersosialisasi.
  • Meningkatnya Risiko Putus Sekolah:

    • Dilema keuangan dan kurangnya dukungan keluarga dapat mendorong anak untuk putus sekolah dan membantu orang tua bekerja.
    • Hal ini dapat memutus akses mereka terhadap pendidikan dan kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.

Mencari Jalan Keluar:

  • Peningkatan Upah Buruh Perempuan:

    • Kebijakan pemerintah untuk menaikkan UMR dan melindungi hak-hak buruh perempuan, terutama di sektor informal, dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga dan mengurangi dilema terhadap pendidikan anak.
  • Dukungan Infrastruktur Penitipan Anak:

    • Menyediakan infrastruktur penitipan anak yang terjangkau dan berkualitas, khususnya di kawasan industri, dapat membantu buruh perempuan tenang bekerja sambil memastikan anak-anak mereka terawat dengan baik.
  • Program Bantuan Pendidikan:

    • Program bantuan pendidikan bagi keluarga kurang mampu dapat meringankan biaya pendidikan anak-anak buruh perempuan, sehingga mereka dapat fokus pada belajar dan meraih prestasi yang lebih baik.
  • Peningkatan Kesadaran Gender:

    • Kampanye-kampanye peningkatan kesadaran gender dapat mendorong lebih banyak pihak untuk terlibat dalam pengasuhan anak dan meringankan beban buruh perempuan, sehingga mereka dapat lebih leluasa mendampingi anak belajar.
  • Pengembangan Keterampilan Anak:

    • Program pengembangan keterampilan di luar sekolah, seperti kursus komputer, bahasa, atau kesenian, dapat membantu anak-anak buruh perempuan memanfaatkan waktu luang mereka dengan produktif dan memperkaya pengetahuan serta kreativitas mereka.
Baca juga:  AUDIENSI BPJS KETENAGAKERJAAN

Dilema buruh perempuan terhadap pendidikan anak bukanlah masalah individual, melainkan persoalan sosial yang membutuhkan solusi sistemik. Dengan dukungan dari pemerintah, swasta, dan masyarakat, para ibu yang bekerja keras ini dapat meraih harapan dan mimpi besar mereka untuk melihat anak-anaknya tumbuh sukses dan mengejar pendidikan setinggi-tingginya.

Marilah kita bersama-sama menjadi bagian dari solusi, dengan memberikan dukungan dan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pendidikan anak-anak dari keluarga buruh perempuan.

Selain itu, penting juga untuk mendorong perubahan sikap dan mentalitas dalam masyarakat yang masih melekat pada stereotip gender. Pendidikan bukan hanya milik anak laki-laki, tetapi juga hak untuk semua anak, termasuk anak perempuan dari keluarga buruh. Dengan membuka akses pendidikan yang lebih luas dan merata, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih adil dan sejahtera bagi semua.

SN-01/Berbagai Sumber