Ilustrasi

Pasokan kontainer pengangkut barang di pelabuhan dalam negeri semakin menipis. Kegiatan ekspor produk Indonesia pun terhambat oleh sulitnya mendapatkan peti kemas kosong dan ruang kapal

(SPNEWS) Jakarta, Pasokan kontainer pengangkut barang di pelabuhan dalam negeri semakin menipis. Kegiatan ekspor produk Indonesia pun terhambat oleh sulitnya mendapatkan peti kemas kosong dan ruang kapal.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia, Zaldi Ilham Masita, menyatakan bahwa kelangkaan ini dipicu oleh penyebaran virus Covid-19 yang mengganggu perdagangan dunia.

“Perdagangan dunia belum pulih, sehingga terjadi penumpukan kontainer kosong di beberapa pelabuhan,” katanya kepada Tempo, kemarin. Penumpukan terutama banyak ditemukan di pelabuhan-pelabuhan yang menjadi titik temu perdagangan dunia, seperti Singapura dan Amerika Serikat.

Di Indonesia sendiri, kegiatan impor masih belum membaik. Badan Pusat Statistik mencatat nilai impor pada Oktober lalu masih minus 6,79 persen dibanding bulan sebelumnya dan minus 26,93 persen dibanding Oktober 2019. Sedangkan kegiatan ekspor pada periode itu masih tumbuh 3,09 persen secara bulanan meski tercatat minus 3,29 persen secara tahunan.

Menurut Zaldi, kondisi ini memicu kenaikan biaya pengangkutan barang kontainer untuk pengiriman internasional. “Kenaikan harganya tergantung rute, bisa 50-200 persen dari harga normal,” ujarnya.

Baca juga:  DPRD JABAR MINTA GUBERNUR UNTUK REVISI SK UMK JABAR 2020

Sekretaris Jenderal Indonesia Maritime, Logistic, and Transportation Watch, Achmad Ridwan Tentowi, mengungkapkan bahwa kelangkaan ini telah berlangsung selama sekitar dua bulan terakhir.

“Banyak barang yang akan diekspor menumpuk di gudang,” kata dia.

Achmad menyarankan pemerintah memanfaatkan kontainer yang berisi limbah bahan berbahaya dan beracun yang tidak bisa dikembalikan ke negara asalnya dan harus dimusnahkan. “Pemerintah bisa meminta importirnya mempercepat pemusnahan.” Menurut dia, saat ini terdapat 1.000 kontainer berisi limbah berbahaya yang menunggu dimusnahkan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyatakan kelangkaan ini juga dipicu pulihnya Cina dari wabah, sehingga mendorong negara tersebut melakukan ekspor besar-besaran ke beberapa negara, terutama produk kebutuhan perayaan Natal dan tahun baru ke Amerika Serikat.

“Kontainer-kontainer kosong tertahan di kawasan Cina-Amerika, sementara beberapa perusahaan pelayaran mengurangi jadwal perjalanan,” tuturnya. Susiwijono menuturkan kondisi itu membuat biaya pengiriman barang naik dalam jumlah tidak wajar. Dia menyebutkan harga kontainer ukuran 40 kaki ke Cina, yang biasanya US$ 400-500 per unit, melonjak menjadi US$ 2.500 per unit.

Baca juga:  PENAMBAHAN PENGURUS UNTUK PENGUATAN ORGANISASI

Dia menyatakan telah menggelar rapat khusus untuk membahas isu kelangkaan kontainer tersebut. Forum itu dihadiri oleh Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, Atase Perhubungan dan Atase Keuangan KBRI di Singapura, Ketua Asosiasi Pengusaha Kawasan Berikat, pelaku industri manufaktur, perusahaan pelayaran, serta asosiasi terkait.

Dalam pertemuan tersebut, Susiwijono menyebutkan, muncul beberapa usul solusi jangka pendek maupun jangka panjang. “Pilihan alternatif solusi semuanya sulit,” ujarnya.

Dia mencontohkan, ada usul untuk memanfaatkan kontainer yang berisi barang yang dikuasai negara, barang milik negara, atau barang yang tidak diurus dengan status tidak dikuasai. Namun realisasi langkah ini perlu mempertimbangkan teknis dan strategi pengembalian kontainer ke Indonesia setelah digunakan untuk ekspor. Alternatif ini juga harus mempertimbangkan ketersediaan kapal pengangkut.

Untuk sementara waktu, Susi mengimbuhkan, pemerintah akan mengoptimalkan penggunaan Pusat Logistik Berikat untuk menampung barang-barang yang gagal diekspor. Ia mengatakan Kementerian Koordinator akan menindaklanjuti isu ini dengan berkoordinasi bersama kementerian teknis terkait, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, PT Pelindo, serta pemilik tempat penimbunan pabean.

SN 09/Editor