SERANG (11/08/2026) — Perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tidak cukup menang lewat kelihaian berbicara semata. Sebaliknya, pekerja membutuhkan kekuatan organisasi, konsolidasi anggota, dan penguasaan data di meja negosiasi.

Pesan penting ini mengemuka dalam Negotiation Skill Workshop IndustriALL di Hotel Ledian, Kota Serang. Kegiatan tersebut berlangsung pada 10–11 Agustus 2026.

Sebanyak 40 pengurus serikat pekerja dari KSPI, KSBSI, dan KSPSI menghadiri forum ini. Selain itu, para peserta melatih strategi untuk meningkatkan kualitas PKB di tempat kerja.

Kekuatan Kolektif Jadi Penentu Posisi Tawar

Presiden Council IndustriALL Indonesia, Iwan Kusmawan, menegaskan pentingnya fondasi organisasi yang solid. Menurutnya, negosiator wajib menguasai data dan strategi yang terukur.

Baca juga:  Kapolri Jenderal Listyo Sigit Terima Penghargaan Dunia dari ITUC, Disambut Meriah Ribuan Buruh

“Kekuatan kolektif bagi serikat pekerja merupakan kewajiban mendasar,” ujar Iwan. “Sebab, hal itu bagian dari tugas, peran, dan fungsi pengurus serikat.”

Oleh karena itu, kekuatan negosiator sangat bergantung pada soliditas anggota di belakangnya. Akibatnya, kemampuan berunding kolektif menjadi kunci utama peningkatan kesejahteraan buruh.

Saling Bertukar Pengalaman Antarpeserta

Manfaat pelatihan ini terasa langsung oleh para peserta. Bahkan, mereka dapat membandingkan draf PKB dari berbagai perusahaan secara terbuka.

Pengurus PSP SPN Kawasan Industri Nikomas, Sutopo, menilai kegiatan ini sangat bermanfaat. Ia merasa mendapatkan bekal strategi baru untuk menghadapi manajemen.

“Pelatihan ini sangat baik untuk meningkatkan kapasitas pekerja saat berunding,” kata Sutopo. “Selain itu, peserta bisa saling melihat PKB dari masing-masing tempat kerja.”

Baca juga:  Dugaan Union Busting Kembali Mencuat di Kawasan IMIP Morowali

Selanjutnya, pertukaran informasi ini melahirkan banyak gagasan baru. Pengetahuan tersebut akan menjadi modal utama saat berhadapan dengan pengusaha.

Perundingan Berbasis Data dan Strategi

Sementara itu, Fungsionaris DPP SPN, Sumiati, hadir sebagai salah satu pelatih. Ia membagikan perspektif praktis mengenai dinamika hubungan industrial modern.

Kemudian, peserta belajar menyusun prioritas tuntutan berdasarkan data yang valid. Langkah ini penting agar argumentasi pekerja sulit dipatahkan oleh manajemen.

Singkatnya, kualitas PKB ditentukan oleh perjuangan nyata di meja perundingan. Serikat pekerja yang solid dan berbasis data akan meraih kesepakatan terbaik demi masa depan buruh.

(SN-21)