MOROWALI–KENDARI, 19 Agustus 2026 — Perjalanan menuju ilmu dan peningkatan kapasitas tidak selalu dimulai dari ruang kelas yang nyaman. Bagi 45 orang anggota dan pengurus SPN se-Kabupaten Morowali, perjuangan itu justru dimulai sejak roda bus meninggalkan Morowali pada Rabu pagi, 19 Agustus 2026.

Mereka adalah delegasi DPC dan perwakilan PSP SPN se-Kabupaten Morowali yang akan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Anggota SPN yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Serikat Pekerja Nasional (SPN) di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 20–22 Agustus 2026.

Tujuannya sederhana, tetapi memiliki makna besar: menambah pengetahuan, memperkuat kapasitas, dan membangun kemampuan anggota agar semakin mampu memperjuangkan kesejahteraan pekerja.

Namun perjalanan tersebut sempat menghadapi ujian.

Sebelum keberangkatan, bus yang akan membawa rombongan diketahui mengalami masalah pada bagian kopling. Setelah dilakukan perbaikan sementara, kondisi kopling kembali normal. Sopir menyatakan bus sudah tidak bermasalah dan siap melanjutkan perjalanan.

Tetapi kekhawatiran tetap muncul.

Iwan, Ketua DPC SPN Morowali, sejak awal telah meminta agar bus tersebut diganti. Bukan karena ingin menghambat perjalanan, tetapi karena ia tidak ingin mengambil risiko. Perjalanan menuju Kendari cukup jauh dan harus melewati medan perbukitan dengan sejumlah tanjakan terjal.

Baca juga:  TTP PEKERJA RSUD CHASAN BOESOIRIE TERNATE 15 BULAN BELUM DIBAYAR

Kekhawatiran itu akhirnya terbukti.

Ketika tiba di wilayah Buleleng dan menghadapi tanjakan yang cukup terjal, bus mulai kehilangan tenaga. Mesin mengeluarkan asap dan kendaraan akhirnya tidak mampu melanjutkan perjalanan.

Perjalanan 45 orang pejuang pekerja itu pun terhenti di tengah jalan.

Sambil menunggu bus pengganti, sebagian rombongan kemudian menumpang kendaraan pickup yang kebetulan melintas. Waktu telah memasuki jam makan siang, sehingga mereka mencari rumah makan terdekat untuk sekadar mengisi tenaga setelah perjalanan panjang.

Namun di tengah situasi tersebut, Iwan memilih tetap berada di lokasi bus mogok.

Sebagai ketua DPC, ia tidak ingin meninggalkan kendaraan sebelum memastikan seluruh anggotanya mendapatkan solusi dan dapat melanjutkan perjalanan dengan aman. Ia menunggu hingga bus pengganti datang dan memastikan seluruh rombongan dapat kembali melanjutkan perjalanan menuju Kendari.

Di situlah makna perjalanan ini menjadi lebih dari sekadar perjalanan mengikuti pelatihan.

Ada tanggung jawab yang melekat pada setiap langkah. Ada kekhawatiran seorang pemimpin terhadap keselamatan anggotanya. Dan ada tekad dari puluhan pekerja yang rela menempuh perjalanan panjang demi mendapatkan ilmu.

Baca juga:  SPN Targetkan Kepemimpinan Perempuan 40 Persen dan Desak Ratifikasi Konvensi ILO

Bagi mereka, pendidikan bukan sekadar kegiatan organisasi.

Pengetahuan adalah bekal untuk menghadapi persoalan ketenagakerjaan. Kapasitas adalah modal untuk memperjuangkan hak-hak pekerja. Dan kekuatan organisasi tidak hanya lahir dari banyaknya jumlah anggota, tetapi dari seberapa jauh anggotanya memiliki kemampuan, pengetahuan, keberanian dan solidaritas.

Bus boleh berhenti karena kerusakan.

Perjalanan boleh tertunda.

Tetapi semangat untuk belajar dan memperkuat kapasitas tidak boleh ikut berhenti.

45 orang dari Morowali itu akhirnya kembali melanjutkan perjalanan menuju Kendari, membawa satu tujuan yang sama: pulang nanti bukan hanya dengan sertifikat pelatihan, tetapi dengan pengetahuan dan kemampuan yang dapat dibawa kembali ke tempat kerja dan digunakan untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi anggota SPN.

Karena bagi perjuangan kaum pekerja, setiap ilmu yang diperoleh hari ini adalah investasi untuk kesejahteraan anggota di masa depan.

Dan perjalanan menuju kesejahteraan itu memang tidak selalu mudah.

Terkadang harus melewati jalan panjang, tanjakan terjal, kendaraan yang mogok, dan berbagai rintangan.

Namun selama tekad tetap menyala dan solidaritas tetap terjaga, perjalanan akan selalu menemukan jalan untuk dilanjutkan.

(SN-03)