Kaum buruh pada setiap kesempatan terutama ketika sedang melakukan aksi unjuk rasa selalu meneriakkan kalimat hidup buruh, buruh bersatu tidak bisa dikalahkan. Tetapi pada kenyataannya sering kali kepentingan buruh, kepentingan SP/SB dan kepentingan pimpinan SP/SB tidak selalu sama. Mereka bisa berjalan seiring, namun juga bisa bertentangan. Semakin SP/SB bekerja secara demokratis dan berorientasi dari bawah ke atas (bekerja untuk kepentingan anggota), maka keselarasan kepentingan masih lebih memungkinkan dipelihara. Kesamaan kepentingan sebagai sesama buruh akan melampaui batasan organisasi dan bendera SP/SB, maupun perintah pimpinan SP/SB

Kesamaan jatidiri dan nasib memungkinkan kaum buruh berbagi kepentingan sebagai sesama buruh. Kaum buruh secara sistematis dipecah belah oleh sistem kerja, ideologi kelas penguasa dan kesulitan hidup sehari-hari akibat dampak neoliberalisme dan kapitalisme. Buruh “kerah putih” tidak merasa perlu turun ke jalan menuntut kenaikan upah seperti buruh “kerah biru”, namun akan turut menikmati dampak kenaikan bila tuntutan itu berhasil. Padahal tuntutan itu akan lebih berpeluang berhasil jika buruh “kerah putih” pun ikut turut turun ke jalan. Penting sekali ‘Persamaan Nasib’ ini ditumbuh kembangkan didalam kalangan buruh karena pada dasarnya mereka memiliki “kesamaan nasib yaitu sama-sama orang yang diberi upah”.

Baca juga:  BURUH SUMUT TOLAK OMNIMBUS LAW RUU CILAKA

Kesadaran akan kesamaan jatidiri dan nasib akan membuka peluang lebih besar terhadap terbentuk dan meluasnya alat politik kelas pekerja, atau partai kelas pekerja. Politik kelas pekerja tidak melulu mesti direpresentasi melalui partai buruh, tetapi dapat juga direpresentasikan oleh partai-partai yang memihak kepada kepentingan kaum buruh. 

Penyatuan jatidiri dan kesamaan nasib membutuhkan perjuangan yang keras dan kreatif dalam meningkatkan kesadaran sekaligus mengatasi masalah sehari-hari kelas pekerja. Dan masalah ini terjadi di semua tempat, baik di pabrik-pabrik, rumah tangga, lingkungan sosial dll. karena pada dasarnya pekerja/buruh bekerja karena ketergantungannya terhadap Upah dan sama-sama menjadi objek dalam mata rantai kapitalisme. Oleh karena itu penulis berpendapat bahwa upaya untuk memberikan pemahaman dan penyadaran agar kaum buruh memahami jatidirinya harus terus diupayakan. Pemberdayaan buruh melalui SP/SB merupakan langkah yang efektif walaupun tentu saja untuk meminimalisir kepentingan dari elit buruh itu sendiri. Proses penyadaran ini akan memerlukan waktu dan perjuangan yang panjang tetapi akan lebih baik daripada hanya menjadi sekedar slogan-slogan tanpa makna serta hanya menjadi alat dari kepentingan sekelompok oknum yang mengatasnamakan kepentingan pekerja/buruh.

Baca juga:  DENDA PELANGGARAN K3 AKAN DINAIKKAN

Shanto dari berbagai sumber/Coed