Ilustrasi

(SPNEWS) Jakarta, Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day diperingati setiap tanggal 8 Maret, tanggal ini ditetapkan sesuai dengan tanggal dilakukannya unjuk rasa kaum buruh perempuan di New York pada 1857, 1907, dan 1909.  Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh PBB pada tahun 1977 silam. Keputusan tersebut diresmikan dengan tujuan untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian di dunia. Peringatan ini akan menjadi momen pentingnya pengakuan atas prestasi para perempuan tanda memandang asal, etnis, bahasa, budaya bahkan ekonomi maupun pandangan politik.

Sejarah Hari Perempuan Internasional

Hari Perempuan Internasional (IWD) telah diamati sejak awal 1900-an, yakni di masa ekspansi dan pergolakan besar di dunia industri yang menyaksikan ledakan pertumbuhan populasi dan kebangkitan ideologi radikal.

Peringatan ini berawal dari peristiwa pada tahun 1908. Sebanyak 15.000 wanita di New York City tahun 1908 mengajukan beberapa tuntutan, diantaranya menuntut jam kerja yang lebih singkat, upah kerja yang lebih baik, dan hak untuk memilih.

Setelah itu, pada tahun 2009 Partai Sosialis Amerika memperingati Hari Perempuan Nasional pada tanggal 28 Februari, peringatan ini terus berjalan hingga Februari 1913.

Baca juga:  PEMPROV BANTEN AKAN BUKA POSKO PENGADUAN THR

Lalu, Clara Zetkin mengusulkan untuk Hari Perempuan Internasional diadakan secara internasional. Hal ini disampaikan dalam Konferensi Internasional untuk Pekerja Wanita di Kopenhagen pada 1910. Konferensi itu dihadiri 100 perempuan yang berasal dari 17 negara dan disepakati bahwa perlu dirayakan Hari Perempuan Internasional.

Menyusul keputusan yang disepakati di Copenhagen, Denmark pada tahun 1911, Hari Perempuan Internasional dihormati untuk pertama kalinya di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss pada tanggal 19 Maret.

Lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki menghadiri unjuk rasa IWD yang mengkampanyekan hak-hak perempuan untuk bekerja, memilih, dilatih, memegang jabatan publik, dan mengakhiri diskriminasi.

Setelah hasil diskusi, Hari Perempuan Internasional disepakati untuk diperingati setiap tahunnya pada tanggal 8 Maret. Hal ini dikarenakan sejarah mogok kerja pada wanita Rusia pada tahun 1917. Setiap tahunnya pada tanggal 8 Maret akan dirayakan Hari Perempuan Internasional dengan tema yang berbeda-beda.

Tema Hari Perempuan Internasional 2023

Dilansir laman resmi International Women’s Day (IWD), tema Hari Perempuan Internasional 2023 adalah #EmbraceEquity atau #RangkulKesetaraan. Tema tersebut merupakan ajakan untuk menantang stereotip gender, menentang diskriminasi serta mengupayakan inklusi atau pendekatan secara terbuka.

Baca juga:  MEMBANTAH KENAIKAN UPAH BURUH AKAN MENINGKATKAN PENGANGGURAN

“Mengaplikasikan kesetaraan gender tidak terbatas pada perempuan yang berjuang sendirian. Kebersamaan sangat penting untuk kemajuan sosial, ekonomi, budaya, dan politik perempuan,” dikutip dari laman IWD.

Tokoh di Balik Hari Perempuan Internasional

Clara Zetkin

Dirayakannya Hari Perempuan Internasional tentu tak terlepas dari perjuangan para perempuan yang terlibat pada prosesnya. Namun, ada satu sosok pencetus yang memberi pengaruh penting.

Dilansir The Guardian, Clara Zetkin merupakan sosok di balik adanya Hari Perempuan Internasional. Ia menjadi pencetus ide diadakannya Konferensi Buruh Wanita Internasional jilid dua di Copenhagen, Denmark, 1910.

Peringatan ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran mengenai kesetaraan gender dan memberi apresiasi terhadap pencapaian perempuan di berbagai bidang. Clara Zetkin sendiri lahir di Sanken, Jerman pada 5 Juli 1857.

Di saat menjadi siswa, ia menyaksikan buruh-buruh yang bekerja di bawah cerobong asap pabrik berada dalam kondisi yang tak layak. Dengan begitu, ia mendalami persoalan tentang kesejahteraan buruh, ketimpangan kelas sosial dan pemikiran Marxisme.

Selain itu, ia memiliki kemampuan berpidato yang baik, sehingga ia masuk Partai Komunis Jerman dan menjabat Reichstag atau dewan legisatif mulai 1920 hingga 1933.

SN 09/Editor