BOGOR (21/08/2026) — Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Nasional (DPP SPN) menggelar pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Kegiatan tersebut berlangsung pada hari kedua di Bigland Hotel, Pakuan, Bogor.
DPP SPN bekerja sama dengan BBTK IFSI-ISVI dan Setca Belgium. Melalui agenda ini, pengurus menegaskan bahwa K3 merupakan garis pertahanan terakhir para pekerja.
Selanjutnya, para peserta membedah materi dasar-dasar K3. Mereka mendiskusikan bahaya, risiko, kecelakaan kerja, hingga penyakit akibat kerja secara mendalam.
Pada sesi pertama, Purwanto mengulas hasil kerja kelompok hari sebelumnya. Setiap kelompok mempresentasikan potensi bahaya di lingkungan kerja masing-masing.
Selain itu, Purwanto menegaskan bahwa bahaya tidak selalu terlihat kasatmata. Oleh karena itu, pekerja harus mengenali potensi risiko sejak dini.
Kemudian, Baiq Evi Mahdalina menyampaikan materi tentang Alat Pelindung Diri (APD). Peserta mempelajari jenis dan fungsi APD sesuai karakteristik risiko pekerjaan.
Bahkan, Evi mengingatkan bahwa APD merupakan benteng terakhir perlindungan buruh. Akan tetapi, perlindungan kerja tidak boleh berhenti pada APD saja.
Sementara itu, Catur Andarwanto memaparkan tugas dan fungsi Panitia Pembina K3 (P2K3). Tim bentukan perusahaan dan serikat pekerja ini bertugas membangun sistem keselamatan kerja yang proaktif.
Sesi terakhir membahas identifikasi bahaya dan penilaian risiko (IBPR). Pengendalian risiko menjadi kunci utama dalam membangun budaya K3 yang kuat.
Singkatnya, pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas pengurus serikat. DPP SPN berkomitmen menjaga martabat, keselamatan, dan masa depan pekerja Indonesia.
(SN-08)


