Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah berimbas naikkan harga bahan baku Textile dan mengancam buruh textile di Majalaya

(SPN News) Majalaya, para pengusaha kain mendapatkan pukulan yang cukup keras akibat naiknya kurs dollar terhadap rupiah beberapa waktu terakhir. Hal tersebut dikarenakan bahan baku kain, yaitu benang, sangat tergantung pada nilai tukar rupiah. Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus melemah menyebabkan para pengusaha kain, terutama para pengusaha industri kecil dan industri rumahan (home industry), harus putar otak dan strategi agar bisnis terus berjalan.

Kemungkinan terburuk yang terpaksa akan diambil para pengusaha bila segala taktik tak bisa berjalan lagi adalah memberhentikan para pekerja.

Baca juga:  AUDENSI UMSK BURUH DENGAN DPRD KABUPATEN BOGOR

“memberhentikan para pekerja adalah hal terakhir yang akan dilakukan, kalau sudah tidak bisa berjalan lagi,” ujar Aep Hendar Cah’yad, pengusaha kain (10/9/2018).

Padahal, menurut pengusaha kain tersebut, sektor usaha kain merupakan jenis sektor yang padat karya. Banyak pekerja yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.

Di Kabupaten Bandung saja, lanjut Aep Hendar, ada puluhan ribu orang yang menggantungkan hidup pada sektor kain dan produk kain, mulai dari pekerja pabrik, distributor, hingga pedagang. Sebagian besar pekerja di sektor kain tersebut berstatus buruh yang menggantungkan hidup hanya dari pekerjaan tersebut.

“Kalau sampai terpaksa diputus, bayangkan berapa banyak pengangguran baru yang akan lahir, ini sektor padat karya, lho,” ujar Aep Hendar.

Baca juga:  RATUSAN BURUH KEPUNG PT ANUGRAH MUTU BERSAMA CIPEUNDEUY SUBANG

Hal serupa disampaikan pengusaha kain lainnya, Agus Ruslan, pengusaha kain asal Majalaya. Menurut Agus, tak ada pengusaha yang ingin mem-PHK pekerjanya.

Namun bila tak ada pilihan lain, ‘pil pahit’ tersebut terpaksa harus ditelan, karena bila tetap dipaksakan, para pengusaha akan menanggung kerugian yang lebih besar lagi.

“Kalau ada PHK, itu pilihan terakhir, kami juga pengusaha sebetulnya tidak mau memutus, itu sumber nafkah orang,” ujar Agus Ruslan.

Shanto dikutip dari Tribunnews.com/Editor