BOGOR (31/12/2025) – Ribuan buruh Jawa Barat melakukan aksi jalan panjang menuju Istana Negara. Selanjutnya, mereka menggunakan konvoi sepeda motor untuk mendatangi pusat kekuasaan nasional tersebut.
Massa aksi memadati jalan utama sehingga menyebabkan arus lalu lintas tersendat. Oleh karena itu, para buruh ingin menyampaikan kekecewaan mendalam secara langsung kepada pemerintah pusat.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengeluarkan keputusan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) 2026. Akan tetapi, para buruh menilai keputusan tersebut mencabut hak pekerja secara sepihak.
Eskalasi Perlawanan Buruh
Buruh Serikat Pekerja Nasional (SPN) dari Sukabumi turut bergabung dalam rombongan besar ini. Selain itu, buruh dari Bogor, Cianjur, dan Depok juga ikut menyatukan langkah mereka.
Mereka merasa saluran aspirasi di tingkat provinsi telah menemui jalan buntu. Oleh karena itu, eskalasi aksi meningkat hingga menuju jantung pemerintahan di Jakarta.
Ketua DPC SPN Kabupaten Sukabumi, Budi, menegaskan alasan utama keberangkatan massa tersebut. Bahkan, ia menyebut mendatangi Istana Presiden sebagai pilihan terakhir bagi buruh.
“Tujuan kita ke Istana Presiden meminta Presiden RI menegur Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi,” ujar Budi di sela aksi.
Tuntutan Revisi SK UMSK
Budi mendesak gubernur agar segera melengkapi dan merevisi SK UMSK di Jawa Barat. Selanjutnya, ia meminta pemerintah mengacu pada rekomendasi resmi dari bupati dan wali kota.
Kemudian, Budi menjelaskan bahwa pembahasan UMSK telah melewati proses yang sangat panjang. Tim teknis telah mengkaji struktur industri dan risiko kerja dengan sangat teliti.
Namun, gubernur justru tidak menetapkan banyak sektor usaha dalam keputusan terbaru tersebut. Hal ini memicu gelombang protes besar dari berbagai aliansi serikat pekerja.
Memperjuangkan Rasa Keadilan
Akibatnya, para buruh merasa kehilangan rasa keadilan atas hak upah mereka tahun depan. Buruh menganggap UMSK sebagai instrumen penting untuk menghargai produktivitas dan risiko kerja.
Sementara itu, upah bukan sekadar angka di atas kertas bagi seluruh pekerja. Singkatnya, aksi ke Istana menjadi simbol perjuangan demi bertahan hidup dan dihargai.
(SN-08)