​Ternyata jam 5 pagi di kota Bekasi masih lebih gelap dibanding di Yogyakarta. Pagi ini aku mengawali hari dengan jogging di lapangan parkir satu hotel bintang empat di kawasan Mega City Bekasi.

Selesai empat kali mengitari lapangan parkir, aku melakukan pendinginan dengan jalan-jalan di pinggir jalan raya. Ketika sampai di sebuah warung kopi di sebelah hotel, didepannya nampak sudah berkumpul puluhan karyawan salah satu perusahaan otomotif besar di Indonesia, hal itu saya ketahui dari tulisan di seragam putih yang dipakai para pekerja tersebut.

Bermaksud mencari minum setelah olah raga aku pun mampir ke warung membeli minuman. Sambil minum air mineral dan menikmati gorengan yang ada di warung , saya sempatkan diri untuk berbincang dengan seorang pembeli di warung tersebut.

“Selamat pagi pak, maaf pak bisa minta waktunya, untuk ngobrol-ngobrol sebentar” sapa ku pada seorang bapak paruh baya di warung tersebut

“ya boleh mas mari” sahutnya lirih. Kami pun ngobrol sambil menikmati gorengan dan minuman di warung mungil tersebut.
Pak Gandung, lelaki berusia 40 tahun tersebut bercerita tentang pekerjaannya sebagai seorang penjaga toilet di sebuah SPBU sebelah hotel tersebut. Pak Gandung bercerita dirinya sudah dua bulan bekerja sebagai penjaga toilet di SPBU ini (sambil jarinya menunjuk tempat yang dimaksud), akan tetapi sebelumnya bekerja di wilayah Tangerang dan baru dua hari ini pindah ke Bekasi, karena perusahaan melakukan oplosan bagi karyawan perusahaan yang masih satu pemilik dengan yang ada di Tangerang tempat kerjanya dulu.

Baca juga:  RUU OMNIMBUS LAW CIPTA KERJA TIDAK MELINDUNGI PEKERJA INDONESIA

Gaji yang diterima pak Gandung jauh dari upah yang sudah ditetapkan oleh pemerintah saat ini, karena bapak dari tiga anak yang masih sekolah ini hanya mendapatkan upah sebesar satu juta rupiah setiap bulannya. Padahal upah yang di Kota Bekasi saat ini sebesar Tiga Juta Enam Ratus Ribu rupiah.

“saya dapat gaji bersih 1 juta sebulan”

“Gaji segitu cukup pak?, terus untuk makan dan tempat tinggal pak Gandung?”, aku menyela ceritanya.

“kalau makan sih diambilkan dari setoran mas, terus tinggalnya dikontrakin sama si bos untuk rame-rame dikampung belakang sini” jawab bapak tiga orang anak yang masih sekolah ini.

“cukup pak bayarnya?” tanyaku heran

“ya… dicukup-cukupin mas, daripada nganggur ga ada kerjaan. Ijasah saya juga ga punya cuma lulusan SD” kata pak Gandung sambil menggigit sepotong pisang goreng.

Baca juga:  RESOLUSI SPN UNTUK KEPASTIAN KESEJAHTERAAN BURUH

“Kalau kerjanya dari jam berapa pak?”, tanyaku lagi

“saya kerjanya dari jam tiga sore sampe jam enam pagi, terus nanti jam enam ganti orang lain yang jaga”

“Dulu sebelum jaga toilet saya lama dagang mas, ya… sekitar 20 tahun di Tangerang ngasong, tapi sama aja mas…, ga ada perubahan hidupnya gini-gini aja”, imbuh lelaki asal Tasikmalaya ini dengan ekspersi wajahnya yang datar

“Istri saya dikampung ngurusin anak-anak, anak saya yang besar kelas 3 SMP, yang nomor 2 kelas 3 SD yang kecil umur 3 tahun”
Karena pak Gandung mau melanjutkan pekerjaanya lagi beliaupun permisi pamit pada saya.

“maaf saya mau lanjutin kerjaan mas, karena yang gantiin belum datang”,ucap pak Gandung yang terlihat lebih tua dari usianya sebenarnya.

“ Iya pak mari, terima kasih ngobrolnya maaf bisa saya foto ya pak buat kenangan?” pintaku.

Selesai aku foto pak Gandung pun meninggalkan warung kembali ke tempat kerjanya. aku pun juga kembali ke hotel tempatku mengikuti pelatihan setelah membayar minuman dan gorengan yang aku makan tadi.

Heri Yogyakarta 1/Editor