Upah dengan biaya hidup di Bahodopi menurut pekerja tidaklah sesuai

(SPN News) Bahodopi, tingginya biaya hidup di Sulawesi Tengah menjadi kendala tersndiri bagi para pekerja yang berada di kawasan Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali.

Seperti yang disampaikan oleh salah seorang pekerja Adam “kebutuhan hidup di sini terbilang cukup mahal, padahal barang – barang di sini tidak jauh – jauh juga asalnya, seperti sayur-sayuran semua berasal dari sini, kenapa bisanya mahal ?”.

Adam pun merincikan dengan asumsi gajinya berkisaran 4 jutaan sebulan, jika dikurangi dengan biaya hidup selama sebulan di Bahodopi sangatlah tidak sebanding. Ia menyampaikan bahwa untuk kebutuhan pokok saja menelan Rp 1.200.000,-, BBM untuk transportasi Rp 150.000,-, biaya Komunikasi Rp 100.000,- dan Kost Rp. 1.500.000,-, hanya karena berdua saja maka bisa lebih irit karena patungan.

Baca juga:  ALIANSI SP/SB BANTEN TOLAK OMNIMBUS LAW RUU CIPTA LAPANGAN KERJA

“Gajiku hanya sekitar 4 -5 jutaan saja, mana bisa kita menabung dalam kondisi hidup yang serba mahal,” kata Adam yang berasal dari Sulawesi Barat.

“Jadi harapan kami disini sebagai pekerja yang berada di kawasan IMIP, selain upah layak, pemerintah pun ikut menjaga kesetabilan dan membawa pedagang agar harga terkendali. Jangan baru isu gaji naik, para pedagang pun ikut menaikan harga, kasihan kami pekerja yang jauh datang dari berbagai daerah harus pulang dengan tangan kosong,” tambahnya Adam

Sementara itu Risnawati salah satu warga Desa Lalampu, Kecamatan Bahodopi mengatakan bahwa dulu di daerah ini harga – harga tidak mahal.

“Jangankan makanan, tanah pun bisa di barterkan dengan benda,” kata ibu beranak dua tersebut kepada Kontributor SPN News.

Baca juga:  SPN JAWA BARAT AKAN UNRAS UNTUK MENGAWAL PUTUSAN PTUN DAN TOLAK RUU CIPTA KERJA

Risnawati menambahkan setelah ada pabrik di sini sekitar enam pabrik, lalu bertambah ,orang -orang berdatangan dari berbagai daerah di Nusantara dan menjadi magnet tersendiri bagi para pedagang. Hanya saja saya menilai pertumbuhan penduduk mengaruhi harga kebutuhan menjadi ikut naik.

“Harapan kami pemerintah Daerah memegang peranan dalam menjaga kesetabilan harga, karena bukan hanya pekerja, masyarakat sendiri ikut resah dengan harga – harga barang yang serba mahal”.

Rahman/Editor