Gambar istimewa

Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menggugat Presiden Jokowi Ke Mahkamah Agung (MA)

(SPN News) Jakarta, akibat menaikan iuran BPJS Kesehatan Presiden Joko Widodo kembali digugat ke Mahkamah Agung (MA). Kali ini yang menggugat adalah digugat oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI). Sebelumnya, Jokowi digugat oleh warga Surabaya bernama Kusnan Hadi.

Gugatan itu dilayangkan ke Mahkamah Agung (MA). Para hakim agung diminta membatalkan kenaikan tarif BPJS.

Kuasa hukum KPCDI Rusdianto Matulatuwu mengatakan “Perpres No 75/2019 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.’ (6/12/2019).

Menurut pemohon, angka kenaikan iuran BPJS hampir mencapai 100 persen menimbulkan peserta bertanya-tanya dari mana angka tersebut didapat. Karena, jika mengambil contoh kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) maka logika masyarakat sudah terbangun karena faktor kenaikan minyak internasional.

Baca juga:  MOGOK KERJA HARI KE 3 PT KAHOINDAH CITRAGARMENT TAMBUN, INTIMIDASI SEMAKIN KENCANG

“Tapi logika tentang kenaikan sudah tergambar, hal ini tidak terjadi dalam kenaikan iuran BPJS sebesar 100 persen mengapa harus 100 persen mengapa tidak 150 persen atau pun dan lain lain sebagainya sementara dibandingkan asuransi swasta kenaikan hanya berkisar 5-10 persen tahun,” ujar Rusdianto.

Kenaikkan BPJS itu dinilai bertentangan dengan Pasal 4 (Huruf c,d dan e) UU No 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Pasal 4 (huruf c,d dan e) UU 24 Tahun 2011 Tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

“Dengan kenaikan sebesar 100% selama 5 tahun atau 20% setiap tahun terhadap iuran BPJS, ini adalah angka yang sangat tidak wajar, karena kenaikan penghasilan yang tidak sampai 10% per tahun, tapi biaya Iuran wajib yang naik rata-rata setiap tahun sebesar 20% membuat ketidakseimbangan,” papar Rusdianto.

Baca juga:  IURAN BPJS KESEHATAN MULAI JANUARI 2020 NAIK 100 PERSEN

Sebelumnya, Kusnan Hadi berharap MA membatalkan kenaikan 100 persen BPJS. Ia bahkan berharap putusan keluar sebelum Januari 2020.

“Semoga sebelum Januari 2020 putusan dari MA sudah keluar. Dan diterima oleh MA kembali seperti dulu,” tutur Kusnan yang juga pengusaha warung kopi itu.

SN 09/Editor