Memaknai May Day dengan Fun Day adalah pembelokan terhadap sejarah hari buruh internasional

(SPN News) Jakarta, keinginan Menteri Ketenagakerjaan RI Hanif Dhakiri yang menginginkan agar May Day menjadi Fun Day adalah merupakan suatu upaya pembelokan terhadap makna sejarah dari hari buruh internasional. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa hari buruh diperingati sebagai hari peringatan tragedi yang terjadi di Haymarket Chicago Amerika Serikat yang mengakibatkan korban jiwa dipihak buruh dan banyak pimpinan buruh yang ditangkap serta dihukum gantung.

Sungguh tidak pantas rasanya apabila hari “Pembantaian buruh” tersebut diperingati dengan suka ria, pesta pora, bagi – bagi door prize dan lain – lain, sementara lehidupan mayoritas buruh masih jauh dari kata sejahtera, bahkan dibeberapa sektor seperti di perkebunan serta buruh migran banyak buruh yang diperlakukan seperti “budak belian”.

Baca juga:  PERAN MEDIA, WADAH KOMUNIKASI DAN INFORMASI PERGERAKAN ORGANISASI

Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan RI M Hanif Dhakiri menginginkan peringatan “May Day” pada 1 Mei 2018 dapat dikemas secara menarik.

“Harapan serta himbauan kami, ‘ May Day is Fun Day ‘. Dalam mengekspresikan, menyuarakan, atau menyalurkan aspirasi, diisi melalui kegiatan-kegiatan positif serta menyenangkan bagi para serikat pekerja ataupun serikat buruh,” ucap Hanif Dhakiri.

Hanif mencontohkan, misalnya dalam penyampaiannya melalui karnaval atau pawai keliling. Rutenya pun tidak perlu terlalu jauh.

Adapun setiap serikat pekerja atau buruh dapat menempelkan aspirasinya pada kendaraan hias yang digunakannya.

Bahkan, menurut Hanif, ketika konsep seperti itu dapat dilaksanakan dan menjadi suatu agenda menarik yang rutin, perayaan May Day di Indonesia bisa menjadi daya tarik tersendiri, seperti di sektor kepariwisataan.

Baca juga:  PENANDATANGANAN PKB PT SINARUP JAYA UTAMA

Shanto dikutip dari berbagai sumber/Editor