Ilustrasi

Pertumbuhan ekonomi yang minus 2,07% di tahun 2020 menjadi indikator Indonesia berada dalam keadaan resesi

(SPNEWS) Jakarta, Indonesia menjadi salah satu negara yang ekonominya masih resesi di tahun 2020. Hal itu menyusul realisasi pertumbuhan ekonomi yang minus 2,07% di tahun lalu. Rendahnya ekonomi nasional ini karena terdampak pandemi Covid-19.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hanya China dan Vietnam yang pertumbuhannya sudah terbebas dari jurang resesi. Kedua negara tersebut berhasil tumbuh positif ekonominya di kuartal IV-2020. Rendahnya pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2020 ini pun menjadi yang terendah sejak krisis moneter (krismon) tahun 1998.

Ekonomi Indonesia sudah masuk jurang resesi sejak kuartal III-2020. Hal itu menyusul realisasi perekonomiannya berada di zona negatif yaitu minus 3,49%, setelah pada kuartal sebelumnya minus 5,32%. Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi secara dua kuartal berturut-turut. Dengan begitu, selama bulan November tahun lalu hingga saat ini ekonomi Indonesia masih resesi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 2,07% di tahun 2020. Setelah pada kuartal IV realisasinya minus 2,19%. Sepanjang tahun 2020, hanya pertumbuhan kuartal I yang positif yaitu 2,97%. Sementara sisanya berada di zona negatif semua, yaitu masing-masing minus 5,32% di kuartal II, lalu minus 3,49% di kuartal III, dan minus 2,19% di kuartal IV.

“Jadi sekali lagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi 0,42% secara q-to-q, dan YoY minus 2,19% di 2020. Secara kumulatif alami kontraksi 2,07%,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam video conference, (5/2/2021).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 tercatat -2,07% (year on year). Angka ini menjadi catatan terburuk sejak kejadian krisis moneter 1998, 22 tahun silam.

“Dengan demikian sejak 1998 untuk pertama kalinya pertumbuhan ekonomi alami kontraksi karena adanya krismon dan global, dan di 2020 minus 2,07% karena pandemi,” Suhariyanto.

Saat itu, krisis ekonomi berkepanjangan membawa ekonomi Indonesia pada 1998 mengalami kontraksi hingga 13,16%. Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) saat itu juga tembus Rp 16.650 dari yang awalnya Rp 2.000.

Krismon 1998 hingga 1999 juga menjadi tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami minus. Setelah itu, ekonomi Indonesia perlahan semakin membaik setelah digulingkannya rezim Orde Baru yang sudah berkuasa lebih dari tiga dekade.

Daya beli masyarakat Indonesia masih sangat rendah di tahun 2020 yang tercermin dari tingkat konsumsi rumah tangga. BPS mencatat realisasi konsumsi rumah tangga nasional berada di level minus 2,63% selama tahun 2020.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan rendahnya tingkat konsumsi rumah tangga Indonesia disebabkan oleh pandemi COVID-19 yang terjadi sejak Maret tahun lalu.

“Pertumbuhan ekonomi terkontraksi 2,07%. Kontraksi konsumsi rumah tangga di sana selama tahun 2020 alami kontraksi minus 2,36%,” kata Suhariyanto.

Suhariyanto menyebut, konsumsi rumah tangga dan investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) menjadi kontributor terbesar pada kelompok pengeluaran. Kedua komponen ini berkontribusi sebesar 89,40% terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun 2020.

SN 09/Editor

Baca juga:  PENELITI UGM MINTA AGAR UU BPJS DAN SJSN DI REVISI