​Mayoritas buruh yang bekerja di pabrik rokok adalah perempuan.

(SPN News) Kudus, mayoritas buruh di pabrik rokok adalah perempuan. Seperti yang terlihat di pabrik sigaret kretek tangan (SKT) milik PT Djarum. Ribuan pekerja berseragam biru berjejer rapih di posisi masing-masing yang sedang melinting rokok rokok adalah perempuan.

Pekerja di pabrik rokok tersebut didominasi oleh kaum hawa yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga. Dari jumlah pekerja sekitar 4.800 ini, kontribusi laki-laki bisa dihitung dengan jari di pabrik tersebut, yakni yang bekerja sebagai supervisor atau pengawas.

“Pekerja di sini seluruhnya wanita. Laki-laki menjadi pengawas. Tadinya ada laki-laki yang melinting rokok, tapi seleksi alam maka dengan sendirinya yang bertahan kaum wanita. Lebih kuat, rajin, dan teliti,” kata salah satu Supervisor, Rudy Tiyanto, (1 9/12/2017)

Para wanita ini pun mesti meninggalkan keluarga mereka di pagi hari demi mencari tambahan pundi-pundi keuangan untuk membantu bahkan menopang perekonomian keluarga. Mereka bekerja selama tujuh jam dai pukul enam pagi hingga satu siang.

Cara kerja mereka dibagi dalam tim. Satu tim terdiri dari dua orang, yang satu bertugas melinting dan satunya merapihkan rokok yang sudah dilinting jika terdapat sisa-sisa tembakau.

Dalam sehari, satu tim rata-rata bisa menghasilkan lintingan 4.000 batang rokok. Setiap 1.000 batang rokok, maka tim tersebut bakal mendapat upah Rp 28 ribu. Jika dikalikan 4.000 maka yang didapat Rp 112 ribu. Artinya setiap pekerja akan membawa penghasilan Rp 56 ribu setiap harinya.

Baca juga:  ZERO ACCIDENT: MEMPRIORITASKAN KESELAMATAN, MENUAI KEBERHASILAN

Dengan upah yang diterima dan jam kerja yang relatif cepat, para pekerja merasa nyaman bekerja di tempat tersebut. Banyak di antara mereka yang telah mengabdi dalam waktu yang cukup lama.

“Enak bekerja di sini, kerja dari pukul 6 pagi sampai pukul satu siang, dan dapat duit lumayan, buat nambah penghasilan keluarga karena setelah pulang bekerja, saya momong anak, ngurus keluarga lah,” kata salah satu pekerja, Siti Agustiwati (32).

Tak hanya Siti, ada juga Masripah (50) yang telah bekerja selama 35 tahun. Dengan penghasilan tersebut, dia bilang sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena suaminya hanya seorang buruh bangunan.
“Namanya kerja, enak saja dapat duit. Dinikmati sama teman-teman,” tutur Masripah.

Dalam sehari, produksi rokok SKT di pabrik ini mencapai 5,4 juta batang. Produksi ini memang semakin menurun. Jika biasaya produksi SKT menyumbang 32 persen pada produksi total, saat ini tinggal 20 persen. Hal itu karena beralihnya minat perokok SKT ke produk yang lebih modern ke sigaret kretek mesin (SKM).

Baca juga:  KUNJUNGAN KERJA KOMITE PEREMPUAN NASIONAL KE KOMITE PEREMPUAN SPN JAWA TENGAH

Sementara memasuki pabrik SKM Djarum Oasis, suasananya sangat berbeda. Di pabrik yang luasnya mencapai 80 hektar ini, tak ada campur tangan manusia dalam proses pekerjaan produksi rokok. Semua diambilalih oleh mesin. Hanya beberapa pegawai penjaga atau pengecek mesin yang terlihat. Suara mesin menderu-deru saling beradu mulai dai proses linting, pengepresan, penyematan pita cukai hingga pengepakan diambilalih oleh mesin.

“Pekerja di pabrik SKM ini 600 orang terdiri dari bagian perawatan dan operator produksi,” kata Senior Manager Maintenance PT Djarum, Aris Rahargiyanto.

Kapasitas produksi rokok di pabrik SKM tersebut sebanyak empat juta batang per shift selama delapan jam. Mesin-mesin yang diimpor langsung dari Jerman ini bekerja selama tiga shift dari pukul enam pagi sampai enam malam. Artinya, dalam waktu satu hari, jumlah rokok yang diproduksi seki

Kapasitas produksi rokok di pabrik SKM tersebut sebanyak empat juta batang per shift selama delapan jam. Mesin-mesin yang diimpor langsung dari Jerman ini bekerja selama tiga shift dari pukul enam pagi sampai enam malam. Artinya, dalam waktu satu hari, jumlah rokok yang diproduksi sekitar 12 juta batang.

Shanto dikutip dari Medcom.id/Editor