Beras menyumbang 18,8% terhadap garis kemiskinan di perkotaan, 24,52% di pedesaan, rokok kretek filter menyumbang 9,98% kemiskinan di perkotaan dan 10,70% di pedesaan.

(SPN News) Jakarta , Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menyatakan beras dan rokok kretek filter merupakan dua komoditas yang paling berkontribusi terhadap kemiskinan. Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan data mencatat temuan ini baik di perkotaan maupun perdesaan.

Data year on year pada September 2017 mencatat, beras menyumbang 18,8% terhadap garis kemiskinan di perkotaan. Sedangkan di perdesaan, bahan makanan pokok ini menyumbang 24,52% terhadap garis kemiskinan.

Adapun rokok kretek filter sama-sama menempati posisi kedua setelah beras. Rokok kretek filter menyumbang 9,98% kemiskinan masyarakat perkotaan dan 10,70% kemiskinan masyarakat perdesaan. Bambang berujar, bukan berarti masyarakat bisa meminta pemerintah menurunkan harga rokok, tetapi tidak merokok sebab barang tersebut dapat menyebabkan kemiskinan. “Selain beras, rokok juga bisa membuat orang miskin,” kata Bambang.

Baca juga:  ANTISIPASI MENINGKATKANNYA KASUS COVID-19, PERUSAHAAN DIMINTA AWASI PEKERJANYA

Selain kedua barang tersebut, kemiskinan di perkotaan juga disumbang oleh telur ayam ras (3,63%), daging ayam ras (3,36%), mie instan (2,24%), dan daging sapi (5,71%). Sedangkan kemiskinan di perdesaan disumbang oleh gula pasir (2,95%), telur ayam ras (3,18%), mie instan (2,11%), dan daging sapi (2,83%).

Selain itu Bappenas menyatakan indeks kedalaman kemiskinan (poverty gap/P1) dan keparahan kemiskinan (poverty severity index/P2) naik pada September 2017. P1 dan P2 naik kendati tingkat kemiskinan mengalami penurunan.
“P1 meningkat 0,05% secara year on year menjadi 1,79% dan P2 meningkat 0,02%menjadi 0,46%0pada September 2017,” kata Bambang.

Bambang mengatakan, peningkatan P1 menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung menjauhi garis kemiskinan. Hal ini mengindikasikan semakin besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mengangkat orang keluar dari kemiskinan. Adapun peningkatan P2 menunjukkan bahwa ketimpangan di antara penduduk miskin semakin melebar. “Sehingga ketepatan sasaran program-program dalam menjangkau terutama penduduk termiskin semakin diperlukan,” ujar Bambang.

Baca juga:  MENCARI KEADILAN LEWAT JALAN MEDIASI

Shanto dikutip dari Tempo.co/Editor