(SPN News) Bulan Ramadhan seringkali diikuti dengan kenaikan harga barang-barang terutama barang kebutuhan pokok, seperti beras, minyak goreng, gula, telur dll. Kenaikan harga ini tak jarang menyulitkan bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah khususnya kalangan buruh. Bagi orang yang yang penghasilannya tinggi mungkin keadaan ini relatif tidak berpengaruh, tetapi sangat berbeda kondisinya bagi masyarakat menengah ke bawah. Selain menghadapi kenaikan harga bahan pokok, menurut budaya kita biasanya menjelang hari raya mereka harus menyiapkan dana khusus untuk baju lebaran, persiapan mudik/pulang kampung yang dibarengi dengan harga tiket angkutan yang juga ikutan naik dan tentu saja oleh-oleh untuk sanak famili serta keluarga di kampung halaman.

Baca juga:  OMNIBUS LAW DITOLAK 35 INVESTOR GLOBAL JUGA DITOLAK BURUH, TERUS PEMERINTAH MEMBUAT UNTUK SIAPA?

Kenaikan harga-harga bahan pokok pada bulan Ramadhan selama ini disebutkan karena faktor permasalahan distribusi yang panjang dan monopoli, kelemahan pengawasan pemerintah dan supply, belum lagi ulah para spekulan yang menimbun barang karena menginginkan Untung yang besar disaat permintaan atas barang meningkat. Ada satu faktor yang sangat berkaitan dengan kenaikan harga barang khususnya sembako, yaitu meningkatnya konsumsi dari masyarakat terutama golongan masyarakat menengah yang mampu. Seharusnya bukan Ramdhan itu disaat masyarakat berpuasa bisa menurunkan/mengurangi konsumsi, tetapi pada kenyataannya yang terjadi malah sebaliknya. Konsumsi masyarakat semakin meningkat sehingga secara ekonomi akhirnya mendorong kenaikan harga. Pasokan yang terbatas dimanfaatkan para pedagang untuk menaikan harga barang-barang tersebut. Akhirnya masyarakat yang “tidak mampu” semakin terpuruk dengan kondisi ini akibat daya beli yang rendah.

Baca juga:  PANCAPRIMA MEMBANGUN KECERDASAN DI ALAM TERBUKA

Perilaku konsumsi berlebihan kelas menengah ini secara tidak langsung juga merampas daya beli orang orang yang tidak mampu. Karena itu, perlu diimbau kepada masyarakat kelas menengah yang mampu untuk memaknai puasa dengan baik, yakni menahan diri dan berempati terhadap lingkungan sosial khususnya mereka yang miskin, dengan mengurangi konsumsi saat Ramadhan sehingga harga-harga barang khususnya sembako dapat senantiasa terkontrol sehingga semua masyarakat baik kalangan berpenghasilan tinggi, menengah maupun yang kurang mampu dapat mengarungi bukan Ramadhan ini dengan suka cita.

Shanto dikutip dari berbagai sumber/Coed