Media Center SPN — Di tengah persoalan ketenagakerjaan yang semakin kompleks, gerakan pekerja tidak cukup hanya mengandalkan keberanian untuk bersuara. Perjuangan membutuhkan fakta, dan fakta membutuhkan data.

Data bukan sekadar angka yang tersimpan dalam dokumen organisasi. Data adalah kekuatan politik, kekuatan perundingan, sekaligus senjata strategis bagi gerakan pekerja untuk membaca persoalan dan menentukan arah perjuangan.

Hal tersebut ditegaskan Asep Saepulloh, Ketua DPP SPN Bidang Diklat dan Kaderisasi. Menurutnya, organisasi pekerja yang tidak menguasai data akan mudah terjebak pada asumsi, sementara organisasi yang mampu mengelola data memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan dan menghadapi perusahaan maupun pemerintah.

«“Dalam gerakan pekerja, data bukan sekadar angka, data adalah kekuatan.”»

Jangan Biarkan Perjuangan Berjalan Berdasarkan Asumsi

Selama ini, berbagai persoalan pekerja sering kali muncul melalui keluhan dari anggota. Namun, keluhan tanpa dokumentasi dan data yang kuat berisiko berhenti sebagai cerita individual.

Persoalannya berubah ketika keluhan tersebut dikumpulkan, diverifikasi, dan dianalisis.

Satu pekerja yang mengalami persoalan mungkin dianggap sebagai kasus individu. Tetapi ketika puluhan atau ratusan pekerja mengalami pola persoalan yang sama, data tersebut dapat menunjukkan adanya masalah struktural dan persoalan kolektif.

Di titik inilah data memiliki kekuatan advokasi.

Data mampu mengubah “katanya” menjadi fakta, keluhan menjadi bukti, dan kasus individual menjadi persoalan kolektif yang layak diperjuangkan.

Karena itu, Asep mendorong seluruh jajaran organisasi untuk membangun budaya:

«“Bicara berdasarkan fakta, bergerak berdasarkan data.”»

Menguasai Data Berarti Menguasai Peta Kekuatan

Bagi serikat pekerja, mengetahui jumlah anggota saja tidak cukup. Organisasi harus memahami siapa anggotanya, di mana mereka berada, bagaimana kondisi hubungan kerjanya, apa persoalan yang mereka hadapi, serta seberapa besar tingkat partisipasi mereka dalam organisasi.

Baca juga:  AKSI NASIONAL SERIKAT PEKERJA NASIONAL DI JAKARTA : SERIKAT PEKERJA NASIONAL DESAK PEMERINTAH UNTUK PENUHI HAK PEKERJA

Data anggota menjadi dasar untuk membaca peta kekuatan organisasi.

Sementara itu, data mengenai upah, PHK, outsourcing, K3, jaminan sosial, status hubungan kerja, kondisi perusahaan, hingga berbagai persoalan di tempat kerja menjadi instrumen penting dalam membangun argumentasi.

“Data anggota membantu organisasi mengetahui siapa yang kita perjuangkan, berapa kekuatan kita, di mana posisi kita, dan apa kebutuhan mereka,” ujar Asep.

Dengan penguasaan data, serikat pekerja tidak datang ke meja perundingan hanya membawa tuntutan. Serikat datang membawa fakta.

Dan fakta yang terukur akan memperkuat posisi tawar.

Dari Data Menjadi Strategi Perjuangan

Data yang menumpuk tanpa dianalisis juga tidak otomatis menjadi kekuatan.

Data harus diolah menjadi informasi. Informasi harus dibaca dan dianalisis hingga menjadi pengetahuan. Dari pengetahuan tersebut organisasi dapat menentukan keputusan dan tindakan.

Artinya, rantai kekuatan organisasi harus bergerak:

DATA → INFORMASI → PENGETAHUAN → KEPUTUSAN → AKSI.

Pada tahap inilah data berubah menjadi kekuatan perjuangan.

Organisasi dapat menentukan apakah sebuah persoalan harus diselesaikan melalui dialog, perundingan, advokasi hukum, kampanye publik, membangun solidaritas, atau mengonsolidasikan aksi kolektif.

Dengan demikian, aksi bukan sekadar reaksi. Aksi lahir dari analisis.

Tiga Kekuatan yang Harus Dibangun

Asep menilai pengelolaan data yang baik setidaknya akan memperkuat tiga fondasi utama gerakan pekerja.

Pertama, kekuatan organisasi.
Data memungkinkan serikat mengetahui jumlah dan sebaran anggota, struktur organisasi, potensi kekuatan, serta tingkat partisipasi.

Baca juga:  MENKO PMK UNGKAP 90 PERSEN ANGKATAN KERJA INDONESIA LULUSAN SLTA

Kedua, kekuatan perundingan.
Data memberikan bukti konkret dalam menghadapi perusahaan maupun pemerintah sehingga argumentasi serikat tidak mudah dipatahkan.

Ketiga, kekuatan gerakan.
Data membantu organisasi menentukan momentum, strategi, sasaran advokasi, serta bentuk perjuangan yang paling tepat.

Dengan kata lain, siapa yang menguasai data akan lebih mampu membaca medan perjuangan.

Serikat Pekerja Harus Naik Kelas

Perubahan dunia kerja menuntut perubahan cara organisasi pekerja bekerja. Era ketika keputusan organisasi hanya mengandalkan intuisi, kebiasaan, atau informasi dari mulut ke mulut harus mulai ditinggalkan.

Serikat pekerja harus membangun organisasi yang melek data, disiplin dalam pencatatan, kuat dalam verifikasi, dan tajam dalam analisis.

Data juga harus menjadi bagian dari proses pendidikan dan kaderisasi. Pengurus dan kader perlu memiliki kemampuan untuk mengumpulkan, memvalidasi, membaca, dan menggunakan data sebagai dasar advokasi.

Sebab, persoalan pekerja hari ini tidak hanya membutuhkan keberanian untuk melawan. Ia membutuhkan kemampuan untuk membuktikan.

Dan untuk membuktikan, organisasi membutuhkan data.

Data Adalah Kekuatan Perjuangan

Pada akhirnya, kekuatan organisasi pekerja tidak hanya ditentukan oleh banyaknya anggota atau besarnya massa yang dapat dikonsolidasikan.

Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mengenal anggotanya, memahami persoalannya, menguasai datanya, mampu membaca situasi, dan mengubah data menjadi strategi perjuangan.

Sebab dalam setiap perundingan, advokasi, kampanye, maupun aksi kolektif, ada satu hal yang tidak boleh hilang: fakta.

Dan ketika fakta dikuasai oleh organisasi, perjuangan memiliki arah.

Bicara berdasarkan fakta.
Bergerak berdasarkan data.
Menentukan arah perjuangan dengan kekuatan organisasi.

Asep Saepulloh
Ketua DPP SPN Bidang Diklat dan Kaderisasi

(SN-03)