BOGOR (28/10/2026) – Serikat Pekerja Nasional (SPN) terus memperkuat fondasi organisasinya. Kali ini, SPN menggelar Leadership Capacity Building Training Sayap Organisasi SPN.
Kegiatan ini berlangsung pada 26–28 Oktober 2026 di Bigland Hotel Bogor. Selain itu, SPN menyelenggarakannya bersama Setca BBTK dan IFSI-ISVI.
Pelatihan ini menjadi momentum konsolidasi untuk memperkuat kepemimpinan. Bahkan, forum ini juga mempertegas fungsi setiap sayap organisasi. Di samping itu, peserta mendorong pembenahan tata kelola agar organisasi makin profesional dan terarah.
Menyatukan Langkah Sayap Organisasi
Pelatihan ini bukan sekadar agenda peningkatan kapasitas. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang untuk menyatukan langkah perangkat organisasi SPN. Dengan demikian, setiap perangkat tidak berjalan sendiri-sendiri.
Pada hari pertama, Dede Saraswati dari ILO Real Giants menyampaikan materi program Sepuluh Jari. Materi itu membahas penggunaan aplikasi pengaduan permasalahan ketenagakerjaan.
Menurut materi tersebut, aplikasi dapat mendukung penyampaian pengaduan soal ketenagakerjaan. Oleh karena itu, penguasaan teknologi menjadi penting di tengah beragam persoalan pekerja.
Organisasi buruh tidak cukup hanya merespons konflik yang sudah terjadi. Sebaliknya, organisasi juga harus memperkuat akses informasi dan pendampingan bagi pekerja.
Peran Lima Sayap Organisasi SPN
Ketua Umum SPN, Iwan Kusmawan, S.H., menjelaskan peran, fungsi, dan pola kerja sayap organisasi SPN. Sayap itu meliputi Media Center, Laskar Nasional, LKBH, Komite Perempuan, dan Komite Pekerja Muda.
Iwan menegaskan pentingnya sinergi antarsayap organisasi. Menurutnya, setiap sayap harus menjalankan perannya secara optimal. Selain itu, setiap sayap harus saling mendukung perjuangan SPN.
Sinergi tidak boleh berhenti sebagai jargon. Sebaliknya, setiap perangkat harus menerjemahkan tugasnya menjadi kerja nyata bagi anggota.
Media Center harus memperkuat komunikasi publik dan menyuarakan perjuangan buruh. Sementara itu, Laskar Nasional perlu membangun kedisiplinan, solidaritas, dan kesiapan organisasi.
Kemudian, LKBH berperan memperkuat pendampingan hukum. Adapun Komite Perempuan dan Komite Pekerja Muda memperluas partisipasi dan melahirkan kepemimpinan baru.
Seluruh sayap tersebut merupakan kekuatan kolektif SPN. Karena itu, koordinasi dan pembagian tugas yang jelas menjadi kunci. Dengan begitu, ego sektoral dan lemahnya komunikasi internal tidak memecah potensi organisasi.
Dua Sayap Belum Memiliki SK dan PO
Iwan juga menyoroti kelengkapan perangkat organisasi. Ia menyebut dua sayap organisasi SPN belum memiliki Surat Keputusan (SK) dan Peraturan Organisasi (PO).
Oleh sebab itu, SPN harus segera menuntaskan persoalan ini. Penguatan organisasi membutuhkan landasan yang jelas soal kedudukan, kewenangan, tugas, dan mekanisme kerja.
Tanpa aturan yang lengkap, program dan pertanggungjawaban organisasi berpotensi tidak berjalan maksimal. Singkatnya, organisasi kuat tidak cukup hanya dengan struktur dan pengurus.
Setiap perangkat harus memiliki dasar organisatoris yang jelas. Selain itu, setiap perangkat harus menunjukkan hasil kerja yang bisa dipertanggungjawabkan.
Media Center SPN Ditargetkan Berbadan Hukum
Selanjutnya, Iwan memaparkan target pengembangan organisasi tahun 2027. Salah satunya, SPN mendorong Media Center agar memiliki legalitas resmi berbadan hukum.
Target ini menunjukkan arah baru Media Center SPN. Tidak hanya mengurus komunikasi dan publikasi, Media Center juga menuju kelembagaan yang lebih kuat dan profesional.
Legalitas itu diharapkan menopang program, pengelolaan, dan aktivitas Media Center. Apalagi, arus informasi dan pertarungan narasi ketenagakerjaan kini makin deras.
Suara buruh membutuhkan saluran komunikasi yang konsisten dan kredibel. Karena itu, target 2027 harus diikuti langkah konkret, mulai dari persyaratan hingga penataan kelembagaan.
Laskar Nasional Siap Gelar Apel Akbar 1.000 Taruna-Taruni
Selain Media Center, Iwan mengungkapkan rencana Laskar Nasional SPN. Pada 2027, Laskar Nasional akan menggelar Apel Akbar yang melibatkan 1.000 taruna dan taruni.
Rencana ini bertujuan memperkuat konsolidasi, kedisiplinan, dan solidaritas Laskar Nasional. Namun, apel sebesar itu membutuhkan persiapan matang.
Persiapan itu meliputi konsolidasi anggota, koordinasi antardaerah, dan kesiapan personel. Dengan persiapan terukur, apel tidak hanya menjadi seremoni.
Akan tetapi, keberhasilan organisasi tidak semata diukur dari jumlah peserta. Yang lebih penting, kedisiplinan dan solidaritas harus menjadi kontribusi nyata bagi anggota.
Sinergi Harus Menjadi Kerja Nyata
Pada akhirnya, pelatihan ini mempertemukan penguatan kepemimpinan dengan agenda pembenahan organisasi. Target Media Center, Apel Akbar, serta SK dan PO membutuhkan tindak lanjut serius.
Kini, tantangannya bukan sekadar merumuskan rencana. Sebaliknya, setiap agenda harus memiliki tahapan, pembagian tanggung jawab, dan target yang jelas.
SPN membutuhkan sayap organisasi yang konsisten menjalankan fungsi. Bahkan, sayap itu harus aktif di luar kegiatan dan memberi manfaat nyata bagi anggota.
Bagi SPN, memperkuat sayap organisasi berarti memperkuat mesin perjuangan buruh. Oleh karena itu, sinergi harus menjadi kerja nyata dan setiap target harus terbukti lewat hasil.
(SN-08)