Manajemen PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) kembali mendapat sorotan tajam. Pasalnya, Serikat Pekerja Nasional (SPN) Morowali menilai sikap perusahaan kurang responsif dalam merespons aspirasi buruh.
Sebelumnya, ratusan buruh menggelar aksi damai di depan pintu masuk kawasan nikel tersebut. Selain berorasi, mereka menyampaikan 12 tuntutan mengenai persoalan ketenagakerjaan dan keselamatan kerja.
Menariknya, massa aksi membuka kegiatan dengan penampilan teatrikal unik. Teatrikal tersebut bertajuk “4 Potong Ikan Berujung PHK” sebagai kritik atas kebijakan perusahaan.
Melalui aksi itu, SPN Morowali menyindir manajemen yang dinilai kurang manusiawi. Bahkan, mereka menganggap perusahaan sering mengabaikan rasa keadilan bagi para pekerja.
Akan tetapi, pihak manajemen PT IMIP tidak langsung menemui buruh di lapangan. Sementara itu, massa aksi tetap bertahan dan menyuarakan tuntutan mereka secara tertib.
Setelah beberapa waktu, manajemen akhirnya membuka ruang dialog dengan perwakilan buruh. Kemudian, Ketua DPC SPN Morowali menyerahkan 12 tuntutan langsung kepada petinggi perusahaan.
Namun, manajemen menolak memberikan tanggapan langsung dalam forum tersebut. Sebaliknya, mereka justru menyerahkan jawaban tertulis kepada perwakilan SPN.
Sikap sepihak itu langsung memicu keberatan keras dari pihak serikat pekerja. Sebab, forum perundingan seharusnya membuka ruang diskusi dua arah secara terbuka.
Ketegangan makin meningkat saat perwakilan buruh meminta penjelasan secara langsung. Akan tetapi, Human Resources (HR) PT IMIP Harto Kambaton justru berusaha menutup dialog tersebut.
“Segala respons dari tuntutan tadi telah kami tuangkan secara tertulis,” ujar Harto Kambaton.
Padahal, pihak SPN belum membaca atau membahas lembaran jawaban tertulis tersebut. Akibatnya, serikat pekerja mempertanyakan keseriusan dan substansi perundingan tersebut.
Oleh karena itu, Ketua DPC SPN Morowali Iwan menyesalkan sikap tertutup manajemen. Ia menegaskan bahwa hubungan industrial yang sehat membutuhkan komunikasi langsung.
“Otoriter kalian ini, besok-besok kita tidak usah lagi ada perundingan. Kalian sudah merusak kemitraan harmonis dan berkeadilan,” tegas Iwan secara langsung.
Singkatnya, SPN Morowali menegaskan bahwa perundingan bukanlah sekadar formalitas belaka. Oleh sebab itu, mereka akan terus memperjuangkan 12 tuntutan demi keadilan seluruh buruh.
(SN-03)