JAKARTA SELATAN (26/02/2026) – Pekerja semakin kuat menuntut ratifikasi Konvensi ILO 190. Aturan ini membahas penghapusan kekerasan dan pelecehan dunia kerja. Komite Perempuan IndustriAll mengadakan pleno strategis di Jakarta Selatan.
Mereka menggelar acara ini pada hari Kamis (26/2/2026). Tim Advokasi Ratifikasi ILO 190 juga turut hadir. Mereka ingin mematangkan kampanye dan aksi kolektif bersama.
Selanjutnya, pertemuan ini menjadi bagian penting konsolidasi gerakan buruh. Mereka bersiap menyambut Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2026. Tujuannya adalah mendorong pengesahan konvensi tersebut.
Oleh karena itu, forum meminta semua pihak melakukan aksi nyata. Mereka menolak keras kegiatan yang sekadar bersifat simbolik.
Selain itu, serikat pekerja menyiapkan strategi pengiriman kartu pos. Mereka akan mengirimkan aspirasi tersebut kepada pemangku kebijakan. Kemudian, setiap federasi sudah mendistribusikan kartu tersebut.
Anggota dapat mengirimkannya secara individu maupun kolektif. Tujuannya tentu untuk memperkuat tekanan publik kepada pemerintah.
Sementara itu, pleno juga mengambil pelajaran dari gerakan buruh Filipina. Sejak tahun 2019, mereka aktif membangun dukungan politik. Buruh Filipina konsisten melobi parlemen dan berkolaborasi dengan partai.
Bahkan, pengalaman berharga tersebut sangat relevan bagi Indonesia. Selanjutnya, forum menekankan pentingnya pemahaman mekanisme hukum di Indonesia. Buruh harus mengerti proses parlemen dan koordinasi kementerian terkait.
Akibatnya, mereka menilai kajian regulasi nasional menjadi sangat krusial. Langkah ini akan memastikan harmonisasi kebijakan pemerintah ke depannya.
Singkatnya, Komite Perempuan IndustriAll terus memperkuat konsolidasi internal serikat. Mereka juga berkomitmen penuh untuk memperluas dukungan dari publik.
Oleh karena itu, pemerintah harus segera meratifikasi Konvensi ILO 190. “Semua pekerja berhak mendapat dunia kerja yang aman dan bermartabat,” tegas perwakilan komite. Pekerja Indonesia sangat membutuhkan ruang kerja bebas kekerasan.
(SN-21)