JAKARTA (29/12/2025) – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menggelar konferensi pers Catatan Akhir Tahun 2025 di Jakarta. Selanjutnya, organisasi buruh ini menyoroti buruknya kondisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tanah air.

Angka kecelakaan kerja di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang sangat signifikan. Bahkan, data BPJS Ketenagakerjaan mencatat ada 323.652 kasus hingga Mei 2025.

Wakil Presiden KSPI, Kahar S Cahyono, menilai kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu, ia menduga angka riil di lapangan jauh lebih tinggi.

“Tren ini sangat mengkhawatirkan bagi semua pihak. Banyak kasus kecelakaan kerja yang mungkin tidak masuk dalam laporan resmi,” tegas Kahar S Cahyono.

Sektor konstruksi dan manufaktur masih mendominasi tingkat kecelakaan kerja tertinggi. Sementara itu, sektor transportasi juga menyumbang angka fatalitas yang cukup besar sepanjang tahun.

Baca juga:  Perjuangan Buruh Global: Said Iqbal Serukan Solidaritas Internasional untuk Perdamaian

Rizky Pradeta dari DPN FSP ISSI juga menyoroti penggunaan asbes di Indonesia. Padahal, serat halus asbes dapat memicu penyakit kanker paru-paru yang mematikan.

“Paparan asbes mengancam kesehatan pekerja serta masyarakat umum secara luas. Singkatnya, atap asbes yang lapuk melepaskan serat berbahaya ke udara,” ujar Rizky.

Selain itu, pemerintah masih melegalkan penggunaan asbes karena alasan biaya yang murah. Akan tetapi, kebijakan ini mengabaikan dampak kesehatan jangka panjang bagi generasi mendatang.

KSPI kini mendesak pemerintah untuk segera menghapus penggunaan asbes secara total. Kemudian, mereka meminta penguatan pengawasan K3 di seluruh sektor industri secara ketat.

Akibatnya, buruh terus menuntut keadilan agar hak dasar atas keselamatan kerja terpenuhi. Singkatnya, pemerintah harus mengambil langkah nyata guna mencegah jatuhnya korban lebih banyak.

Baca juga:  DEMO MENOLAK ISI PERPPU NO 2 TAHUN 2022 TENTANG CIPTA KERJA

(SN-03-D2)