(SPN News) Jakarta,  22 Desember 2016 PT Hisotex yang beralamat di Jalan raya Daan Mogot KM 14 Kalideres Jakarta Barat,  menyatakan tutup usahanya terhitung pada hari kamis 22 Desember 2016 sesuai dengan pengumuman yang di tempel di pintu gerbang masuk pabrik dan seluruh pekerja tidak diperbolehkan masuk. Menurut  pengurus PSP bung Ahmad Sudrajat dan saudari Novinta Jayanti,  hal ini kenapa harus terjadi, perusahaan dengan tiba tiba menyatakan tutup. PSP memang sempat diajak melakukan perundingan tentang keinginan perusahaan untuk memangkas biaya produksi termasuk pengurangan pekerja sekitar 100 orang dengan mendapatkan kompensasi 1 kali ketentuan plus 1 bulan upah, tetapi belum tercapai kesepakatan tentang kriteria pekerja yang akan diberhentikan. PSP mengusulkan agar pekerja kontrak dan pekerja yang memasuki masa pensiun yang didahulukan. Dengan catatan pekerja yang memasuki masa pensiun mendapatkan haknya sesuai dengan ketentuan UU yaitu mendapat 2x ketentuan, tetapi usulan ini ditolak oleh perusahaan karena perusahaan ingin memberhentikan sesuai dengan hasil penilaian kinerja setiap pekerja.

Karena tidak ada titik temu hal ini dimediasikan dengan pihak Sukudinas tenaga kerja dan trasmigrasi Kota Administrasi  Jakarta Barat pada tanggal 28 November 201. Pada saat itu tertuang dari salah perundingan salah satu poinnya adalah tidak ada penutupan pabrik dan sebagaimana saran dari pihak Sudinakertrans Jakarta Barat agar dirundingkan kembali di tingkat perusahaan. Menurut kesaksian saudari Novinta Jayanti perundingan itu tidak pernah ada namun yang ada malah penutupan pabrik.

Baca juga:  CAPASITY BUILDING PENGURUS KP KOTA BOGOR

Akibat penutupan ini sontak seluruh pekerja PT Hisotex yang berjumlah sekitar 400 orang ini hanya bisa menyampaikan aspirasinya di luar kantor PT Hisotex.  Pengurus PSP yaitu  Bung Heru dan Bung Wandi  langsung mendatangi Sudinakertrans jakarta barat dan bertemu dengan bapak Gatot S Widagdo dari bidang hubungan industrial untuk melaporkan kejadian yang terjadi di PT Hisotex. Hal ini langsung direspon oleh Sudinakertrans Jakarta Barat yang diwakili oleh bapak Gatot S Widagdo dan bapak Nardi langsung mendatangi PT Hisotex untuk menemui pekerja. Sementara di lokasi telah hadir Ketua DPD SPN DKI Jakarta bung Ashari beserta perangkat DPD lainnya dan perangkat DPC SPN Jakarta Barat.  Hadir juga dari Kepolisian Polsek Jakarta Barat yaitu Wakapolsek Andika dan beberapa anggota kepolisian lainnya untuk memantau situasi.

Pukul 13.00 WIB PSP mendesak pimpinan  manajemen PT Hisotex agar memberikan pejelasan. Perusahaan merespon keinginan tersebut, maka terjadilah perundingan, perusahaan diwakili oleh bapak Iskandar dan dalam perundingan ini mengungkapkan bahwa perusahaan telah mendaftar kepada Sudinakertrans untuk melakukan penutupan perusahaan disertai bukti surat audit independen yang menyatakan bahwa perusahaan selama 2 tahun kebelakang mengalami kerugian. Bapak Gatot S Widagdo menyatakan bahwa benar perusahaan telah melakukan pendaftaran untuk menutup perusahaan tetapi tidak langsung diproses karena Sudinakertrans meminta agar perusahaan mengkaji alternatif lain selain menutup pabrik agar sekitar 400 pekerja yang ada tidak menjadi pengangguran.

Keputusan pimpinan perusahaan PT Hisotex bapak Wiwin Kurniawan sudah bulat tetap akan menutup perusahaan dan itu yang ditegaskan oleh bapak Iskandar selaku perwakilan perusahaan dan menyatakan akan memberikan uang kompensasi sebesar satu kali ketentuan sesuai psal 162 uu no 13 tentang ketenagakerjaan dengan cara bertahap perminggunya sebanyak 40 orang dan selesai secara keseluruhan pada akhir januari 2017.

Baca juga:  AROGANSI PT KAWASAN BERIKAT NUSANTARA BERIMBAS PHK 

Dari PSP yang diwakili bung Wandi menyatakan keberatan atas apa yang disampaikan bapak Iskandar dan apabila perusahaan ini benar benar tutup maka PSP meminta agar pemberian kompensasi diberikan sekaligus  kepada seluruh pekerja. Karena tidak ada titik temu tentang teknis pembayaran kompensasi  tersebut maka disepakati untuk melakukan perundingan lagi pada hari Jumat tanggal 23 Desember 2016.

Perundingan pada hari jumat dimulai pukul 14.00 WIB yang di hadiri oleh PSP, Managemen dan Sudinakertrans Jakarta Barat yang di wakili oleh bapak Gatot S Widagd. Perundingan kali ini pun berjalan alot karena masing-masing pihak mempertahankan argumentasinya masing-masing. Akhirnya masing-masing pihak dapat bersepakat mengenai pembayaran dan besarnya uang kompensasi tersebut dengan ketentuan diantaranya sebagai berikut : bahwa perusahaan bersedia memberikan kompensasi kepada para pekerja sesuai dengan pasal 156 ayat (2) UU No 13 Tahun 2003 yaitu uang pesangon sebesar 1x ketentuan pasal 156 ayat (3) dan uang penggantian hak sesuai dengan pasal 156 ayat (4), selain ketentuan tersebut bagi yang mengambil kompensasi paling lambat tanggal 7 Januari 2017 diberikan tambahan 1.000.000,- dan sesuai jadwal yang dibuat oleh perusahaan.

 

Aki Mansur/Coed